Ingat nggak zaman dulu kalau mau beli sesuatu, kita harus ke pasar, tawar-menawar sampai suara serak, dan kadang pulangnya malah beli yang nggak direncanakan? Eh, sekarang cukup scroll sambil tiduran, keranjang penuh, saldo kosong—tapi bahagia. Yuk, kita kupas bareng, gimana sih awal mula belanja online sampai bisa nyampe ke gang sempit rumah kita yang bahkan ojek online suka nyasar.
Dulu: CD Sting, Sekarang? CD RAM Diskonan
Tahun 1994, dunia baru kenal internet, masih pake modem bunyi kriiiikk kriiikk tit tit tuuuut. Tapi siapa sangka, dari sambungan yang lebih lelet dari sinyal di desa, seseorang berhasil menjual CD musik Sting lewat NetMarket. Itu kayak tetangga kamu yang pertama kali coba jualan di Facebook, tapi skalanya global.
Tak lama kemudian, muncul Amazon dan eBay. Amazon dulunya cuma jualan buku. Sekarang? Dari makanan kucing sampai treadmill ada. Bayangin Jeff Bezos jualan buku di garasi, sekarang malah punya roket. Luar biasa memang, efek “jualan online”.
E-Commerce Merajalela: Bukan Cuma Diskon, Tapi Juga Drama
Masuk tahun 2000-an, teknologi makin kencang, dompet makin tipis. Website belanja makin ramai, dan masyarakat mulai suka belanja sambil duduk santai. Lalu muncul aplikasi, dan semua berubah—sejak negara api menyerang eh, sejak kita bisa belanja sambil rebahan di kasur.
Belanja online pun berkembang jadi olahraga ekstrem: rebutan flash sale, deg-degan nunggu paket, hingga tantangan bernama “saldo cukup, tapi nggak yakin perlu”.
Indonesia: Surganya Diskon, Promo, dan COD
Masuk ke Indonesia sekitar tahun 2010-an, Tokopedia dan Bukalapak mulai merintis jalan. Tapi jujur aja, dulu orang masih takut: “Beneran sampai nggak ya?” atau “Jangan-jangan barangnya zonk?”
Namun, kita ini bangsa yang cepat belajar. Apalagi kalau ada tulisan “GRATIS ONGKIR” dan “COD TANPA SYARAT”. Seketika semua keraguan sirna.
Lalu datang Shopee, Lazada, Blibli, Zalora, dan temen-temennya. Mereka bukan cuma jual barang, tapi juga kasih hiburan: live shopping, lagu Shopee yang nggak bisa hilang dari kepala, sampai game tanam-tanaman demi voucher.
Sekarang: Kurir Lebih Sering Datang dari Teman Sendiri
Hari ini, belanja online jadi bagian dari hidup. Saking seringnya belanja, kurir sampai hafal nama kita dan tau di mana pintu belakang rumah. Bahkan ada yang bilang, “Kalau seminggu nggak ada paket, kayak ada yang hilang dari hidup ini.”
Dan jangan lupakan ritual khas: beli barang Rp20 ribu, ongkir Rp15 ribu, tapi tetap checkout. Karena... ya udah terlanjur cinta.
#platform #ecommerce #trend #belanjaonline

0 Komentar